Foto Poster Publikasi Pernyataan sikap BEM Nusantara Surabaya Raya.
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Surabaya Raya menggelar aksi tegas pada Rabu (19/11/2025), menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Aksi yang melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya ini berpusat pada satu argumen moral: bahwa jejak pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di era Orde Baru tidak dapat ditebus oleh jasa pembangunan.
Ketua BEM Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Rizky Nuhan Maulana, yang tergabung dalam aliansi tersebut, menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan harus didasarkan pada integritas dan dampak positif yang paripurna. "Ketika gelar pahlawan tersebut diberikan kepada Bapak Soeharto, yang kita tahu memiliki sejarah yang kelam, itu yang menjadi poin utama keberatan kami," ujar Rizky.

Pernyataan sikap BEM Nusantara Jawa Timur (JATIM).
Ia menambahkan bahwa kepribadian dan efek yang diberikan kepada negara seharusnya yang baik-baik, tetapi sejarah Soeharto penuh dengan kasus pelanggaran HAM dan berakhir dengan kontroversi. Mahasiswa juga menampik keras narasi tandingan yang kerap menggunakan jasa pembangunan sebagai alat rekonsiliasi atau penebus kesalahan masa lalu. Menurut Rizky, pembangunan fisik tidak bisa menjadi mata uang untuk menukar nyawa dan keadilan. "Saya rasa tidak segampang itu untuk masalah penebusan daripada kasus pelanggaran HAM," tegas Rizky.
Ia juga menyoroti fakta bahwa kasus-kasus pelanggaran HAM hingga kini belum tuntas, dengan bukti nyata adanya Aksi Kamisan yang telah diadakan hampir lebih dari 800 kali. "Masih banyak seorang ibu, banyak seorang ayah yang masih menantikan anaknya ini kasusnya seperti apa. Mengapa hanya ditimbal balik oleh pembangunan? Kami rasa itu tidak setimpal." ujarnya.

Foto BEM Nusantara Surabaya Raya saat melakukan aksi simbolik pernyataan sikapRabu (19/11/2025).
Rizky menjelaskan, aksi simbolis pada hari ini merupakan bentuk pernyataan sikap mahasiswa agar sejarah bangsa tidak dicederai. Namun, BEM Nusantara Surabaya Raya memberi sinyal ancaman aksi yang lebih besar. "Kami akan melakukan konsolidasi ulang karena memang ada beberapa isu tambahan, seperti isu penetapan KUHAP. Untuk next-nya, kalau memungkinkan, kita akan turun aksi yang lebih besar lagi daripada aksi simbolis pada hari ini," pungkasnya, memberikan ultimatum agar pemerintah tidak mengabaikan tuntutan keadilan sejarah ini.
SALAM PRODUKTIF!!














