Salah satu penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono, Foto from Instagram: @dandhy_laksono
SURABAYA – Di tengah prediksi suram mengenai kondisi ekonomi dan ekologi Indonesia pada tahun-tahun mendatang, penulis buku Reset Indonesia, Dandhy D. Laksono, justru menemukan secercah harapan pada anak muda, khususnya Generasi Z. Dalam acara bedah buku yang digelar di Kantor Pos Pusat Kebonrojo, Surabaya, Sabtu (28/12/2025), Dandhy menyebut Gen Z memiliki potensi politik yang unik dan mematikan bagi status quo.
Alih-alih menganggap Gen Z sebagai generasi yang lembek atau apatis, Dandhy justru memuji fenomena cancel culture yang lekat dengan generasi ini. Menurutnya, budaya tersebut, jika diarahkan dengan benar, bisa menjadi senjata ampuh melawan hegemoni narasi penguasa di media sosial.
"Gen Z ini kekuatan cancel culture-nya cukup kuat. Banyak buzzer-buzzer politik yang ditumbangkan oleh Gen Z Indonesia, dan itu keren banget," ujar Dandhy mengapresiasi.
Ia menolak anggapan bahwa gerakan anak muda hanya berhenti di jempol atau media sosial saja. Ia mencontohkan gerakan solidaritas untuk Palestina (Pro-Gaza) sebagai bukti bahwa Gen Z mampu melakukan aksi politik yang berdampak nyata secara ekonomi.
"Banyak boikot-boikot, gerakan solidaritas untuk Palestina, gerakan Pro-Gaza, itu gerakan Gen Z Indonesia konkret banget boikot," tegasnya. Menurut Dandhy, konsistensi dalam melakukan boikot ini menunjukkan adanya kesadaran politik global yang tajam di kalangan anak muda Indonesia.
Dalam pemaparannya, Dandhy membandingkan situasi pemuda di Indonesia dengan negara-negara lain seperti Nepal, Bulgaria, dan Sri Lanka, di mana anak mudanya sudah bergerak turun ke jalan untuk menuntut perubahan rezim.
Ia menilai, saat ini Gen Z Indonesia sedang dalam fase "latihan" dan akumulasi kesadaran. Ia optimis bahwa momentum perubahan besar itu akan segera tiba.
"Ada potensi besar dalam politik Gen Z yang memang perlu latihan terus. Tapi enggak akan lama menurut saya. Kita akan bisa mudah-mudahan seperti Nepal atau Bulgaria," prediksi Dandhy.
Menutup wawancaranya, sosok di balik film Dirty Vote ini melontarkan kalimat pamungkas yang menantang sekaligus menaruh harap. "Indonesia Gen Z-nya belum marah. Kita tunggu Gen Z Indonesia marah," pungkasnya.
SALAM PRODUKTIF!!
Editor: Ardian Reza Pahlevi













